"Mimi, selamat yaa, proyek lo berhasil lagi !" seru Joni, sahabatnya sendiri sambil mengulurkan tangannya.
"Bisa saja, oh ya, lo kapan nih mau ngelamar Citra ? Kalian kan sudah pacaran selama 5 tahun ?"
"Lo sendiri kapan ? Lo kan udah sukses jadi Event Organizer nih, nah gue gampang saja kalau mau nikah, kan ada lo yang ngerancangnya. Lo sendiri kapan mau nikah ? MAsih betah nungguin oppa lo ituu ?" tanya Joni.
"Nggak tahulah..." jawab Mimi lesu.
"Tuh, kan... baru aja gue belum nyebut nama oppa lo, eh udah cemberut saja... move on aja deh, lo udah single selama 8 tahun ? Nggak takut bakal sia-sia ??? Lo kan nggak pernah ketemu lagi sama dia selama 8 tahun ini ??? Yakin dia jodoh lo ?"
"Jojo, plis gue lagi nggak mau ngebahas soal oppa dulu..."
"Okelah, gue tinggal dulu ya ? Gue mau nge-date dulu sama Citra, bye...."
"Dasar menyebalkan..." kata Mimi tertawa kecil.
Setelah Joni pergi, Mimi menatap jendela ruangan kantornya. Langit siang itu sangat mempesona, angin kencang berhembus meniup rambutnya yang terurai. Dia memang single, dia tak pernah ingin menjalin suatu hubungan dengan siapapun lagi. Bukan hanya karena cintanya selalu bertepuk sebelah tangan, tapi dia masih tidak bisa melupakan orang yang dia cintai saat SMA dulu, kakak kelasnya yang bernama Andra. Kakak kelas yang mampu membuatnya tersenyum bahagia tanpa harus melakukan apapun. Kakak kelas yang membuatnya bersemangat untuk melakukan apa saja, bahkan ikut organisasi di sekolahnya dulu, padahal dia terkenal dengan sifatnya yang pemalas dan tidak suka repot dengan mengurus acara-acara sekolah dulu.
"Mimi... betul kan kamu, Mimi ??? Kamila Putri ??? Alumnus Sman 1 Semarang ???"
Mimi pun menoleh ke belakang. Dia terkejut dan mundur selangkah ke belakang. Dia syok dengan siapa yang dia lihat di depannya sekarang. "Oppa...."
"Lama tak bertemu, terakhir kapan ya ? Aku lupa... selamat ya, kamu sekarang sukses menjadi event organizer, kamu memang hebat !" kata Andra sambil tersenyum.
Mimi masih terdiam. Dia kehabisan kata-kata. 8 tahun tak bertemu dengannya membuat dia tak tahu harus berbuat apa jika bertemu kembali. Tapi ada apa gerangan kak Andra mencarinya ? Pasti bukan karena cinta, pasti bukan.
"Mimi, hello... Mimi !"
"Oh ya, kak... terima kasih... apa kabar ?" tanya Mimi spontan saat ditegur Andra.
"Baik, kau sama sekali tak berubah ya ?" Andra tertawa kecil. "Pasti kau heran kan kenapa aku ke kantormu ? Aku bisa minta bantuanmu ? Aku tahu, kau hanya mengurus soal resepsi perkawinan, tapi apa kau bisa membantuku mengatur dan mengurus prosesi lamaran ? Aku ingin melamar orang yang aku cintai beberapa hari lagi, bisa ?"
Apa ?! Sudah ku duga, dia datang bukan karena cinta, dia datang karena suatu hal, apa dia ingin aku melihatnya melamar gadis lain seperti saat sma dulu ??? batin Mimi. "Bisa kok, kakak ingin dekorasinya seperti apa ? Terus acaranya mau yang meriah dengan keluarga atau spesial ?"
"Aku hanya ingin melamarnya di sebuah lapangan luas, aku ingin kau mendekorasi dari kursi, meja, panggung dan hiasan-hiasan lainnya yang tak ku mengerti berwarna pink, tak lupa harus ada dekorasi mawar pink dan koreanya ya ? Soalnya dia sangat suka warna pink dan segala hal tentang korea." jelas Andra panjang lebar.
"Baiklah... dia kelihatannya sangat feminim..."
"Tidak juga, satu hal lagi, kau harus membantuku untuk memilih gaun yang cocok untuknya, aku tidak begitu tahu soal style-style baju cewek, besok kita berangkat ya ? Aku akan menjemputmu di depan kantormu, kita juga hunting tempatnya ? Aku ingin kau yang mengurusnya langsung, nanti baru kau suruh pegawaimu untuk mengurus yang lainnya, bagaimana ?"
"Setuju...." Mimi tersenyum terpaksa dan berjabatan tangan dengan Andra.
Mimi menghempaskan tasnya ke segala arah dan langsung merebahkan dirinya di kasur. Dia memijit keningnya. Dia menatap foto yang ada di balik fotonya di meja belajar. Butir-butir air jatuh menetes di kasurnya, dia menutup wajahnya dengan bantal dan menangis sejadi-jadinya.
"Oppa, kenapa oppa selalu begini padaku ? Kenapa, oppa ? Kenapa aku harus selalu melihat oppa bahagia dengan wanita lain ? Kenapa ???"
* * *
"Bagaimana jika gaun ini ? Dia suka pink, kan ? Apalagi style-nya agak korea-korea begitu..."
"Kau bisa mencobanya untukku ? Soalnya ukuran badan dan tingginya sama denganmu, mau kan ?" tanya Andra hati-hati.
"Tapi... baiklah, demi pekerjaan..." Mimi manyun dan masuk ke ruang ganti.
Beberapa menit kemudian, Mimi keluar dari ruang ganti baju. "Bagaimana, kak ? Apa sesuai dengan calon istrinya ?"
"Good, sekarang kita memilih sepatunya. Tunggu sebentar ya ? Aku mau memilihkannya dan kau harus mencobanya untukku, oke ? Tunggu sebentar !"
"Tak pernah berubah, selalu cuek..." Mimi menghela napasnya.
"Warnanya cantik, kan ? Aku suka sekali, sangat pas di kakimu. Kalau begitu ayo kita bawa ke kasir.."
Saat di depan kasir, Mimi curi-curi pandang ke arah Andra. Dia kemudian menunduk gelisah. Rasanya semua ini seakan ingin membunuhnya pelan-pelan. Sungguh menyakitkan. Harus melihat orang yang kau cintai dan kau tunggu sekian tahun hanya untuk melamar wanita lain ? Apa lagi yang bisa dia lakukan ? Semua sudah tak ada gunanya.
"Wah, nona di sebelah tuan ini manis sekali, sangat cocok dengan tuan yang bermata sipit. Apa dia pacar tuan ?" tanya si kasir tiba-tiba.
Bruuk ! Mimi menabrak meja kasir karena terkejut dengan kata-kata yang diucapkannya barusan. Dia pun segera berdiri dan menyibak rambutnya karena malu. Kenapa sih dia selalu melakukan hal konyol di depan Andra ? Maluuuu....
"Buka...."
"Bisa jadi.." potong Andra tersenyum ke arahnya.
Mimi menepuk jidatnya pelan dan menahan malu, dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Andra barusan. Mungkin ini hanya mimpi. Mimpi di siang bolong untuknya. Dia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan balas tersenyum ke Andra.
* * *
"Aku sengaja memilih tema pesta kebun yang romantis, dengan lilin di atas mejanya, dengan dekorasi serba pink dan korea terus ada seikat mawar pink di atas meja. Makanannya juga akan disiapkan nanti. Bagaimana ? Suka dengan rancanganku ?" tanya Mimi sambil memperlihatkan sketsa di kertas dengan ragu. "Ini mungkin sederhana tapi kesannya romantis, seperti drama-drama korea yang ku tonton, kak."
"Kau suka korea juga ??? Oh, ya... apa kau sudah menikah ???"
"Tentulah suka, sejak smp aku sudah suka korea dan jadi fansgirling hahaaha. Belumlah, pacar aja belum ada, masa mau menikah...."
"Kenapa ???"
"Aku sedang menunggu seseorang... tapi sepertinya semua akan sia-sia saja..."
"Tak ada yang sia-sia di dunia ini jika kau percaya dengan keajaiban. Kalau kalian jodoh, kalian pasti akan dipertemukan walau harus terpisah antar negara..."
"Pasti wanita itu sangat beruntung... dia akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini karena begitu dicintai kakak, lagipula.. aku sangat iri padanya...dia pasti sangat sempurna..." kata Mimi pelan sambil berusaha menahan tangisnya.
"Dia tidak sempurna, dia hanya unik. Being unique better than being perfect... apa kau ingin ke korea ? Kau pasti ingin sekali berjumpa dengan idola-idolamu itu, kan ???"
"Tentu saja, aku ingin pergi ke korea dulu baru menikah, itu adalah impian terbesarku sejak dulu !" kata Mimi bersemangat dan berbinar-binar.
* * *
Mimi terus terdiam sejak tadi sore, dia melamun. Malam ini adalah malam prosesi lamaran Andra. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa duduk diam di depan rumah dan meratapi kemalangannya. Segala usahanya sia-sia, dia tidak akan pernah bisa memiliki orang yang dia cintai. Takkan pernah. Selamanya. Dia terus menyeka air matanya hingga tak menyadari Joni duduk di sampingnya dan menatap lurus ke depan.
"Kenapa ? Lo ketemu Andra ? Kenapa lo nangis ? Lo harusnya bahagia dong !"
"Aku pasti akan sangat bahagia jika dia datang menemuiku bukan untuk merancang acara lamarannya dengan wanita lain ! Ya, aku memang harus bahagia ! Aku akan melepaskan dia hari ini juga ! Aku akan benar-benar melupakannya dan berbahagia untuknya ! Puas, kamu ?!"
"Kok kamu...." Joni bingung.
"Rasanya sakit saat harus mengalami dejavu seperti ini, Jo ! Kamu tidak akan pernah mengerti perasaanku ! Aku harus melihat oppa dengan wanita lain terus menerus, dan sekarang bahkan aku sendiri yang merancang acara lamarannya dengan begitu romantis ! Kamu tidak akan pernah tahu apa yang aku rasakan sekarang ! Aku rasanya mau gila !"
Joni memeluk sahabatnya yang menangis histeris itu dan membiarkan kaos bajunya basah. Tak apalah dia tak jadi kencan dengan pacarnya, Mimi lebih membutuhkannya sekarang ini, dia tidak boleh sendirian, dia harus dihibur.
* * *
Mimi melihat sepucuk surat dan sebuah bungkusan di atas kasurnya. Dia memandang ke segala arah. Dia pun semakin terkejut saat membuka bingkisan tersebut yang berisi gaun dan sepatu yang dia pilih bersama Andra. Dia pun membuka surat tersebut dan membacanya.
Dear Mimi...
Datanglah ke taman di mana kau merancang acara lamaran ini untukku malam ini. Aku ingin kau melihat hasilnya, aku ingin kau menjadi saksi atas peristiwa penting ini, jangan lupa pakai gaun dan sepatu yang ada di bingkisan itu ya... aku tunggu kedatanganmu jam 8 malam...
Andra
Dengan terpaksa dan tak mau mengecewakan Andra, dia pun segera mengambil gaun itu dan berganti baju. Dia harus ke sana. Tidak peduli apa yang akan dia lihat dan rasakan nanti. Malam ini dia harus merelakan cintanya pergi dan berbahagia, dia pasti bisa. Ini akan menjadi air matanya yang terakhir untuk Andra, terakhir untuk selamanya.
* * *
Tak ada yang istimewa, tak ada seorangpun di sana saat dia tiba. Hanya sebuah lilin kecil yang menyala dengan terang di sebuah meja di tengah kebun yang dirancang sedemikian rupa olehnya dengan ornamen mawar pink dan ala korea. Dia melangkah menuju meja tersebut dan mendapati sebuah notes hitam tergeletak manis. Dia memandang ke segala arah. Sunyi. Senyap. Angin berhembus pelan. Dia pun duduk dan dengan penuh rasa ingin tahu, dia pun membuka notes tersebut.
Mimi...
Saat kau membuka lembaran buku ini, kau akan tahu kepada siapa buku ini ditujukan.Kau harus membaca keseluruhan dari isi buku ini jika ingin tahu alasan kenapa aku membuat hal konyol seperti ini padamu...
Welcome to dunia kenangan yang tak mungkin terlupakan :)
Mimi terharu dan terus membaca lembaran berikutnya. Dia mendapati semua hal tak terduga. Dia tak menyangka Andra yang selama ini sangat cuek dengannya ternyata tak secuek dan sedingin yang dia pikir selama ini. Hingga pada halaman terakhir...
jika kau sudah pada lembaran terakhir, tutuplah buku ini dan tataplah lurus ke atas panggung. Tiup lilin yang ada di depanmu dengan pelan. Maka kau akan mendapati bahwa penantianmu tak sia-sia, keajaiban itu ada, dan kau harus tahu, kaulah gadis yang beruntung tersebut...
Mimi menutup buku tersebut dan meniup lilin itu perlahan. Dia menatap lurus ke atas panggung. Tiba-tiba lampu di atas panggung itu menyala dan terlihatlah Andra tersenyum padanya sambil memegang sebuah gitar di tangannya.
"Kak Andra..." gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Andai engkau tahu, betapa ku mencinta...
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku...
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau inginkan..
Ku pasrahkan takdirku, takdir kan menjawabnya...
Jika aku... bukan jalanmu, ku berhenti mengharapkanmu..
Jika aku... memang tercipta untukmu..
Ku kan memilikimu...
Jodoh pasti bertemu....
Andra membawakan lagu afgan yang berjudul jodoh pasti bertemu itu dengan apik. Dia pun turun dari atas panggung dan menghampiri Mimi yang diam saja sejak membaca notesnya tersebut. Helaan napasnya terdengar cemas dan gelisah. Tiba-tiba saja Mimi membalikkan badannya dan setengah berlari menjauh dari situ, Andra pun segera menarik tangannya dan berdiri di hadapan Mimi.
"Berapa tahun lagi aku harus mencarimu ??? Kau menghilang bagaikan ditelan bumi dan sekarang setelah kau tahu semuanya, kau ingin pergi ? Tega sekali kau..."
"Kak... apa maksud semua ini ? Tidak mungkin wanita itu aku... aku bukanlah apa-apa, aku hanya butiran kecil dari wanita-wanita yang menyukai kakak, kenapa harus aku ???"
"Salahkah jika aku mencintaimu ? Apakah aku perlu mengutarakan alasan mengapa aku bisa jatuh cinta padamu ? Kau masih ingat kata-kataku tempo hari ? Being unique better than being perfect... itu semua sudah menjelaskan mengapa aku begini, kamu unik. Dan kali ini, aku tidak mau lagi kehilangan wanita yang setia menungguku selama 8 tahun tanpa kepastian...aku tidak mau perjuanganku untuk mencarimu ke berbagai kota di pulau ini sia-sia, karena aku yakin, jika kita memang saling mencintai dan berjodoh, kita pasti akan dipertemukan suatu saat nanti..."
"Tapi kenapa... kenapa dengan membohongiku, dengan meminta bantuanku untuk merancang semua ini ? Kenapa, kak ???" tanyanya pelan.
"Semua ini memang untukmu, aku sengaja merencanakan semua ini sebagai kejutan untukmu... kau masih suka pink kan ? Mawar pink ? Korea ? Suju ? Infinite ? Ft Island ? Boyfriend ? haahahaha..."
Mimi tertawa kecil walaupun dia heran darimana Andra tahu semua kesukaannya. Tiba-tiba Andra berjongkok di hadapannya dan menyodorkan sebuah kotak berisi cincin di hadapannya dengan tersenyum. Dia berusaha mati-matian menutupi debaran jantungnya dua kali lebih cepat berdetak dari biasanya jika berada di situasi seperti ini.
"Aku memang tidak pernah mendekatimu seperti orang-orang atau bahkan seperti aktor-aktor korea idolamu tersebut, aku juga tidak romantis.... tapi... will you marry me ?"
Mimi membisu. Diam seribu bahasa. Dia terkejut dengan apa yang dikatakan Andra barusan. Dia menunduk. Membiarkan hawa dingin menyelimuti hatinya. Angin semilir yang berhembus di sekitarnya seakan membawa lari semua kata-kata yang ingin terucap. Lidahnya kelu.
"M...Mi...Mimi...." kata Andra cemas.
"Aku..."
Andra menatapnya gelisah, dia berusaha tegar dengan apa yang akan dikatakan Mimi selanjutnya. Apapun jawabannya, dia akan menerimanya dengan sportif dan lapang dada. Mungkin Mimi sudah tidak mencintainya lagi, mungkin bukan dia yang Mimi tunggu selama n tahun, mungkin bukan dia.... Jika memang mereka tidak bisa bersama di dunia ini, mungkin mereka sudah bersama di dimensi paralel, sungguh dia iri jika semua itu benar terjadi.
"Jika aku berkata tidak sekarang... Apa aku harus menunggu selama ribuan tahun untuk menunggumu mengatakan ini lagi ?" Mimi tersenyum manis.
"Mimi...." Andra terkejut. "Jadi kau menerima lamaranku ??? Mimi !!! Saranghae !!!" teriak Andra lagi dengan gembira.
"Konyol...."
Andra mengulurkan tangannya kepada Mimi dan tersenyum. "Jadi, apa kau mau menerima tawaranku untuk pergi ke korea minggu depan ???"
"Boleh, tapi... jangan salahkan aku jika nanti saat di korea aku akan jatuh cinta dan bertemu dengan L infinite ya !" Mimi pun berlari dengan bahagia.
"Hei ! Awas kau ya ! Kau harusnya bersyukur bisa mempunyai calon suami yang mirip orang korea sepertiku ! Hei, mimi !!! Tunggu aku !!!"
*selesai*
Jangan pernah menyerah untuk memperjuangkan cintamu, yakinlah... jika kalian memang ditakdirkan untuk bersama, kalian pasti akan bertemu... jangan mau kalah dengan waktu dan jarak... dan jangan berhenti untuk jatuh cinta jika cintamu selalu bertepuk sebelah tangan. Bukannya manusia itu diciptakan berpasang-pasangan ??? Siapa tahu, kan orang yang kamu sukai diam-diam selama ini ternyata mempunyai perasaan yang sama ? :)
Keep smile and enjoy your life xD